ABSTRAK
Trio
Molina P, 2019 : Akumulasi Logam Berat
pada Daun Echinodorus palaefolius
pada Variasi Media Penyaring Selama Remediasi Air Lindi
Persoalan sampah
di Pekanbaru merupakan salah satu hal yang sangat diresahkan masyarakat
sekitar. Karena, jumlah peningkatan sampah yang melebihi kapasitas dapat
mencemari lingkungan dan akan menjadi substansi cairan yang dihasilkan dalam
proses pembusukan sampah yang baunya sangat menyengat, yang disebut dengan air
lindi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa kadar logam berat Fe
dan Cr yang terakumulasi di daun melati air (Echinodorus palaefolius) selama remediasi air lindi (leachate). Penelitian ini merupakan
penelitian eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4
perlakuan dan 5 kali pengulangan setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kadar logam berat Fe dan Cr yang terakumulasi pada daun melati air (Echinodorus palaefolius) paling banyak terdapat
pada perlakuan 1 (P1) hari ke 30 dengan menggunakan media penyaring Podzolik
Merah Kuning (PMK) dengan tumbuhan melati air (Echinodorus palaefolius), nilai efektivitas akumulasi logam berat
Fe pada daun melati air (Echinodorus
palaefolius) sebesar 32,843% mg/L sedangkan nilai efektivitas akumulasi
logam berat Cr pada daun melati air (Echinodorus
palaefolius) sebesar 10,242% mg/L. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
media penyaring PMK dengan melati air (Echinodorus
palaefolius) pada perlakuan 1 (P1) sangat berpengaruh terhadap akumulasi
logam berat Fe dan Cr pada daun melati air (Echinodorus
palaefolius) selama remediasi air lindi.
Kata kunci: media penyaring, logam berat, Echinodorus palaefolius, air lindi, fitoremediasi
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Muara Fajar Pekanbaru
merupakan salah satu tempat pembuangan akhir sampah di kota Pekanbaru. Berdiri
pada tahun 1987, dengan luas area 8,6 hektar yang berada di daerah Rumbai. TPA
tersebut dikelola oleh pemerintah kota Pekanbaru. Pada awal pembukaan lahan,
TPA Muara Fajar menerapkan metode controlled
landfill dalam pengolahan sampah, hal ini ditandai dengan adanya saluran drainase untuk mengendalikan air hujan,
saluran pengumpul lindi (leachate),
kolam penampung, fasilitas pengendalian gas metan dan lain-lain (Sugiarto,
2013).
Sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tersebut masih
mengalami proses penguraian secara alamiah dengan jangka waktu panjang.
Beberapa jenis sampah dapat terurai secara cepat, sedangkan yang lainnya lebih
lambat bahkan beberapa jenis sampah tidak berubah sampai puluhan tahun misalnya
plastik. Hal ini memberikan gambaran bahwa setelah TPA selesai digunakan, masih
ada proses yang berlangsung. Sehingga menghasilkan beberapa zat yang dapat
mengganggu lingkungan (Sugiarto, 2013).
Persoalan sampah juga dapat mengancam kota Pekanbaru
sebagai salah satu kota besar di Sumatera yang jumlah penduduknya terus
meningkat. Sehingga kebutuhan penduduknya juga ikut meningkat. Berkaitan dengan
itu, pemerintah kota Pekanbaru telah melakukan berbagai upaya penanggulangan
sampah mulai dari kegiatan penyuluhan dan penyadaran masyarakat tentang
kebersihan, penjemputan sampai dari rumah-rumah penduduk untuk diangkut ke
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah (Sari & Sari, 2014).
Saat ini tempat pembuangan akhir (TPA) Muara Fajar
menerapkan sistem open dumping dalam pengolahan sampah dikarenakan
jumlah peningkatan sampah yang melebihi kapasitas. Open dumping yaitu
berupa area terbuka cukup luas yang digali atau bekas jurang. Area tersebut
kemudian digunakan sebagai tempat pembuangan sampah dari segala penjuru kota
(Sundari, 2015).
Agar sampah tersebut tidak mencemari lingkungan, keberadaan
tempat pembuangan akhir (TPA) memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu
sebagai pengolahan akhir setelah disortir oleh pemulung. Jumlah sampah di TPA
yang sangat besar akan menyebabkan proses dekomposisi alamiah berlangsung
secara besar-besaran pula. Proses dekomposisi tersebut akan mengubah sampah
menjadi pupuk organik dan menimbulkan hasil samping yaitu air lindi (Anam,
2011).
Air lindi (leachate) adalah substansi cairan
yang dihasilkan dalam proses pembusukan sampah dan baunya sangat menyengat. Air
lindi mengandung zat berbahaya apalagi jika berasal dari sampah yang tercampur
dengan sampah B3 (Bahan berbahaya dan beracun). Jika tidak diolah secara khusus,
air lindi dapat mencemari sumur/air tanah, air sungai, hingga air laut dan
menyebabkan kematian biota (makhluk hidup) laut (Sari, 2015).
Salah satu upaya penjernihan air lindi tersebut yaitu
menggunakan fitoremediasi (phytoremediation) yang menggunakan tanaman
air tertentu yang bekerja sama dengan mikroorganisme dalam media (tanah, koral
dan air). Perpaduan ini dapat mengubah zat kontaminan (pencemar/polutan)
menjadi kurang atau tidak berbahaya bagi lingkungan. Proses yang dilakukan
tumbuhan untuk menguraikan zat kontaminan yang mempunyai rantai molekul
kompleks menjadi bahan yang tidak berbahaya dengan susunan molekul yang lebih
sederhana yang dapat berguna bagi pertumbuhan tumbuhan itu sendiri (Anam,
2011).
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh
Sundari (2015), ternyata media
penyaring dan melati air (Echinodorus palaefolius) dalam fitoremediasi
air lindi (leachate) hasilnya sangat efektif. Hasil
yang didapat setelah penelitian selama 28 hari menunjukkan bahwa terdapat
pengaruh signifikan media penyaring dengan tumbuhan melati air (Echinodorus
palaefolius) terhadap kualitas air lindi (leachate). Penurunan kadar
polutan yang efektif terdapat pada perlakuan P3 (Podzolik merah kuning, zeolit,
tumbuhan melati air) dengan nilai efektivitas kekeruhan 95,18 %, Suhu 4 %, Total
Suspended Solid (TSS) 97,47%, tidak bau, pH 20,86%, dan Dissolved Oxygen
(DO) (-)6660%. Oleh karena itu, maka peneliti akan
melanjutkan penelitian untuk menganalisa akumulasi logam berat Fe dan Cr pada
daun tanaman melati air (Echinodorus
palaefolius) dalam remediasi air lindi (leachate). Karena peneliti ingin melihat kemampuan daun
melati air dalam mengakumulasi kadar logam berat Fe dan Cr terhadap air lindi
TPA Muara Fajar Pekanbaru tersebut.
Berdasarkan penelitian
Sundari (2015), peneliti mengambil logam berat yang paling banyak
melebihi batas kriteria mutu air dan berbahaya yaitu Kromiun (Cr) dan Besi (Fe).
Logam berat tersebut akan dianalisa pada daun tanaman melati air (Echinodorus palaefolius) saja.
Karena, logam berat Kromiun (Cr) dan Besi (Fe) dapat menyebabkan penurunan
kualitas air serta membahayakan lingkungan dan organisme akuatik.
Peneliti memanfaatkan tanaman melati air (Echinodorus palaefolius)
dikarenakan tanaman tersebut sangat mudah dijumpai di daerah Rumbai dan tanaman
tersebut sangat mampu menurunkan Chemical
Oxygen Demand (COD) dan Biological
Oxygen Demand (BOD) dalam meremediasi kadar logam berat. Chemical Oxygen Demand (COD) yaitu
kebutuhan oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di dalam
air, sedangkan Biological Oxygen Demand (BOD)
ialah kebutuhan oksigen biologis untuk memecah bahan buangan di dalam air oleh
mikroorganisme.
Penjelasan tersebut senada dengan penelitian Lasalutu (2013),
menyatakan hasil analisis nilai rata-rata kandungan Biological Oxygen Demand (BOD) sesudah pengolahan yaitu 26,00 mg/L
dan nilai rata-rata kandungan Chemical
Oxygen Demand (COD) sesudah
pengolahan yaitu 74.00 mg/L kinerja dari unit pengolahan Air Lindi TPA
Botubilotahu masih efesien dalam pengolahannya sehingga dari kedua parameter
yaitu Biological Oxygen Demand (BOD)
dan Chemical Oxygen Demand (COD) tidak melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.
Observasi selanjutnya, pembelajaran di kelas pada
materi pencemaran lingkungan dalam matakuliah Ilmu Pengetahuan Lingkungan belum
sepenuhnya memanfaatkan potensi lingkungan sekitar dan belum terdapat bahan
ajar artikel berbasis penelitian untuk membantu mahasiswa belajar. Mahasiswa
membutuhkan kegiatan nyata terjun ke lingkungan dan bahan ajar yang dimiliki
masih kurang.
Selama ini mahasiswa masih memanfaatkan penjelasan
dari dosen dan mengumpulkan informasi dari media internet. Sehingga mahasiswa
sangat membutuhkan pembelajaran yang kontekstual ditunjang dengan bahan ajar
menarik berupa artikel yang
berisi materi tentang lingkungan, dan informasi dalam artikel tersebut berbasis
penelitian langsung. Untuk menunjang pembelajaran dan kebutuhan yang didukung
oleh pengamatan peneliti terhadap lingkungan, maka dikembangkan sebuah
pembelajaran di kelas untuk materi pencemaran lingkungan yang berbasis
penelitian fitoremediasi.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka telah
dilakukan penelitian dengan judul “Akumulasi Logam Berat pada Daun Echinodorus palaefolius pada Variasi
Media Penyaring Selama Remediasi Air Lindi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Air Lindi (leachate)
Air lindi (leachate)
merupakan air yang terbentuk dalam timbunan sampah yang melarutkan banyak
sekali senyawa yang ada sehingga memiliki kandungan pencemar yang sangat
tinggi, khususnya zat organik. Cairan tersebut kemudian mengisi rongga-rongga
pada sampah, bila kapasitasnya telah melampaui kapasitas tekanan air dari
sampah, maka cairan tersebut akan keluar dan mengekstraksi bahan organik dan anorganik
hasil proses fĂsika, kimia dan biologis yang terjadi pada sampah. Jadi air lindi
(leachate) sangat berpotensi
menyebabkan pencemaran air, baik air permukaan, air tanah maupun air bawah
tanah, sehingga perlu dikelola dengan baik (Pinem et al., 2014).
Air lindi (leachate)
berasal dari limbah sampah organik yang biasanya diproduksi dari sampah rumah
tangga. Sampah basah/organik inilah yang menghasilkan air lindi (leachate) dan bisa mencemari air sumur
penduduk sekitar. Pencemaran air tanah (groundwater) oleh air lindi (leachate) menjadi ancaman yang serius bagi masyarakat.
Elevasi permukaan tanah diatas muka laut rata-rata menjadi faktor penyebab
utama penyebaran air lindi (Rosid et al.,
2011).
Air lindi (leachate)
mengandung zat berbahaya dan baunya sangat menyengat apalagi jika berasal dari
sampah yang tercampur dengan sampah B3 (Bahan berbahaya dan beracun). Jika
tidak diolah secara khusus, air lindi (leachate)
dapat mencemari sumur/air tanah, air sungai, hingga air laut dan menyebabkan
kematian biota (makhluk hidup) laut (Yatim & Mukhlis, 2013).
Karakter air lindi (leachate) atau sangat bervariasi tergantung dari proses-proses yang
terjadi di dalam landfill, yang meliputi proses fisik, kimia dan
biologis. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi proses yang terjadi di landfill
antara lain : jenis sampah, lokasi landfill, hidrogeologi dan sistem
pengoperasian. Faktor tersebut sangat bervariasi pada suatu tempat pembuangan
yang satu dengan yang lainnya, begitu pula aktivitas biologis serta proses yang
terjadi pada timbunan sampah baik secara aerob maupun anaerob. Dengan adanya hal
tersebut maka akan mempengaruhi pula produk yang dihasilkan akibat proses
dekomposisi seperti kualitas dan kuantitas air lindi serta gas, sebagai contoh
bila suatu Tempat Pembuangan Akhir (TPA) banyak menimbun sampah jenis organik
maka karakter air lindi (leachate) yang
dihasilkan akan mengandung zat organik tinggi yang disertai bau (Ali, 2011).
B. Fitoremediasi
Fitoremediasi
(phytoremediation) merupakan suatu sistem dimana tanaman tertentu yang
bekerja sama dengan mikroorganisme dalam media (tanah, koral dan air).
Perpaduan ini dapat mengubah zat kontaminan (pencemar/polutan) menjadi kurang
atau tidak berbahaya bagi lingkungan. Proses yang dilakukan tumbuhan untuk
menguraikan zat kontaminan yang mempunyai rantai molekul kompleks menjadi bahan
yang tidak berbahaya dengan susunan molekul yang lebih sederhana yang dapat
berguna bagi pertumbuhan tumbuhan itu sendiri (Anam et al., 2011).
Proses
fitoremediasi berlangsung secara alami dengan enam tahap proses secara serial
yang dilakukan tumbuhan terhadap zat kontaminan/ pencemar yang berada
disekitarnya (Kirman, 2011) adalah :
a.
Phytoacumulation
(phytoextraction)
Yaitu proses
tumbuhan menarik zat kontaminan dari media sehingga berakumulasi disekitar akar
tumbuhan. Proses ini disebut juga Hyperacumulation.
b.
Rhizofiltration
(rhizo= akar)
Merupakan proses
adsorpsi atau pengedapan zat kontaminan oleh akar untuk menempel pada akar.
Percobaan untuk proses ini dilakukan dengan menanan bunga matahari pada kolam
mengandung radio aktif untuk suatu tes di Chernobyl, Ukraina.
c.
Phytostabilization
Yaitu penempelan
zat-zat kontaminan tertentu pada akar yang tidak mungkin terserap kedalam
batang tumbuhan. Zat-zat tersebut menempel erat (stabil ) pada akar sehingga
tidak akan terbawa oleh aliran air dalam media.
d.
Rhyzodegradetion
disebut juga enhenced rhezosphere
biodegradation, or plentedassisted bioremidiation degradation. Yaitu
penguraian zat-zat kontaminan oleh aktivitas mikroba yang berada disekitar akar
tumbuhan. Misalnya ragi, fungi dan bakteri.
e.
Phytodegradation
(phytotransformation) Yaitu proses yang
dilakukan tumbuhan untuk menguraikan zat kontaminan yang mempunyai rantai
molekul yang kompleks menjadi bahan yang tidak berbahaya dengan dengan susunan
molekul yang lebih sederhan yang dapat berguna bagi pertumbuhan tumbuhan itu
sendiri. Proses ini dapat berlangsung pada daun , batang, akar atau diluar
sekitar akar dengan bantuan enzim yang dikeluarkan oleh tumbuhan itu sendiri.
Beberapa tumbuhan mengeluarkan enzim berupa bahan kimia yang mempercepat proses
proses degradasi.
f.
Phytovolatization
Merupakan proses
menarik dan transpirasi zat kontaminan oleh tumbuhan dalam bentuk yang telah
larutan terurai sebagai bahan yang tidak berbahaya lagi untuk selanjutnya
diuapkan ke atmosfir. Beberapa tumbuhan dapat menguapkan air 200 sampai dengan
1000 liter perhari untuk setiap batang.
C.
Logam
Berat
Logam berat ialah unsur logam dengan berat molekul
tinggi. Dalam kadar rendah logam berat pada umumnya sudah beracun bagi tumbuhan
dan hewan, termasuk manusia. Termasuk logam berat yang sering mencemari habitat
ialah Cr, Cd, Hg, As, dan Pb (Notohadiprawiro, 2006).
Berdasarkan sudut pandang toksikologi, logam berat
dapat dibedakan menjadi logam berat esensial dan logam berat non esensial. Logam berat esensial adalah dalam jumlah
tertentu sangat dibutuhkan oleh organisme hidup, namun dalam jumlah yang
berlebihan dapat menimbulkan efek racun, sebagai contoh antara lain Zn, Cu, Fe,
Co, Mn dan Se. Sedangkan logam berat non esensial merupakan logam yang beracun
(toxic metal) yang keberadaannya
dalam tubuh masih belum diketahui manfaatnya, sebagai contoh antara lain Hg,
Cd, Pb, Sn, Cr (VI) dan As. Logam berat ini dapat menimbulkan efek yang
merugikan kesehatan manusia, sehingga sering disebut sebagai logam beracun
(Sosrosumihardjo, 2010).
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 32 Tahun 2017, didapatkan parameter fisika dan kimia dalam
standar baku mutu air kesehatan lingkungan media air untuk lingkungan higiene sanitasi seperti pada tabel di
bawah ini :
Tabel 1: Parameter Fisika dan Kimia dalam Standar
Baku Mutu Air Kesehatan Lingkungan Media Air Untuk Lingkungan Higiene Sanitasi
No
|
Parameter
|
Satuan
|
Baku
Mutu
|
1
|
Bau
|
-
|
Tidak
Berbau
|
3
|
Besi
(Fe)
|
mg/L
|
1,000
|
4
|
Kromium
(Cr)
|
mg/L
|
0,050
|
5
|
pH
|
-
|
6,5-8,5
|
6
|
Suhu
|
0C
|
±
3
|
Keberadaan Kromium (Cr)
diperairan dapat menyebabkan penurunan kualitas air serta membahayakan
lingkungan dan organisme akuatik. Dampak yang ditimbulkan bagi organisme
akuatik yaitu terganggunya metabolisme tubuh akibat terhalangnya kerja enzim
dalam proses fisiologis. Kromium (Cr)
dapat menumpuk dalam tubuh dan bersifat kronis yang akhirnya
mengakibatkan kematian organisme akuatik (Irhamni et al., 2017).
Terdapatnya logam besi
(Fe), cadmium (Cd), dan kromium (Cr) dalam air lindi (leachate) TPA sangat berbahaya karena logam ini adalah logam yang
bersifat sangat toksit dan akan merembes ke dalam tanah yang akan mencemari air
tanah. Jika ketiga logam ini merembes ke dalam tanah maka akan mencemari
sumur-sumur penduduk setempat (Irhamni et
al., 2017).
D.
Tanaman
Melati Air (Echinodorus palaefolius)
Melati air merupakan
tanaman akuatik atau tanaman air yang berasal dari Brazil, Peru, Meksiko, dan
Uruguay. Bunga melati air berwarna putih bersih, kelopaknya terlihat agak
tipis, dan tengah bunga terdapat benang sari berwarna kuning. Melati air hampir
sama dengan melati biasa. Melati air kerap berbunga tak kenal musim dan tidak
perlu penanganan khusus karena mudah untuk hidup (Mursito, 2011).
Klasifikasi Tanaman Melati air (Echinodorus palaefolius) :
Kingdom
|
: Plantae
(Tumbuhan)
|
Sub
kingdom
|
:
Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
|
Super
divisi
|
:
Spermatophyta (Menghasilkan biji)
|
Divisi
|
:
Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
|
Kelas
|
: Liliopsida
(berkeping satu/ monokotil
|
Sub
kelas
|
: Alismatidae
|
Ordo
|
: Alismatales
|
Famili
|
: Alisnataceae
|
Genus
|
: Echinodorus
|
Spesies
|
: Echinodorus palaefolius
|
Gambar 1: Tanaman Melati Air (Echinodorus palaefolius)
(Dokumentasi Pribadi)
Melati ini jenis tumbuhan perdu spesies Echinodorus
palaefolius, berdaun lebar, bunganya bewarna putih 1 kuncup yang mampu
menghasilkan beberapa bunga dan hanya bertahan 6-7 jam. Memiliki akar serabut
dan batang yang berongga sehingga mampu menyuplai oksigen ke akar dalam jumlah
yang besar. Akar tanaman berfungsi untuk menyerap unsur hara yang berasal dari
air limbah untuk mengelola kandungan pencemaran pada air agar memiliki nilai
estetika bagi lingkungan. Melati air (Echinodorus palaefolius) ini mudah
tumbuh asalkan tanahnya tidak kering kerontang (Sari, 2013).
Daun
melati air (Echinodorus palaefolius) agak kaku, permukaan dan bagian
bawah daun ditumbuhi bulu-bulu yang kasar. Melati air (Echinodorus
palaefolius) tidak tahan dengan sinar matahari sepanjang hari. Jika daunnya
berwarna kekuning-kuningan, sebaiknya dipindah ke tempat yang sedikit
terlindung (Mursito, 2011).
E.
Media
Penyaring
a. Zeolit
Zeolit
berasal dari kata “zeinlithos” yang artinya batuan berbuih. Zeolit
merupakan suatu kelompok mineral yang dihasilkan dari proses hidrotermal pada
batuan beku basa, dimana mempunyai kemampuan mengadsorpsi bahan-bahan organik
sehingga dapat menurunkan kadar pencemaran dari limbah cairan lindi (leachate) tersebut (Liliya & Suharto, 2011).
Selain
itu zeolit juga merupakan endapan dari aktivitas vulkanik yang banyak
mengandung unsur silika. Pada saat ini penggunaan mineral zeolit semakin
meningkat, dari pegunungan dalam industri kecil hingga dalam industri berskala
besar. Di negara maju seperti Amerika Serikat, zeolit sudah benar-benar
dimanfaatkan dalam industri (Liliya & Suharto, 2011).
b. Ferrolite
Ferrolite adalah suatu
jenis mineral yang tersusun di dalamnya yang berisi ion – ion logam, biasanya
logam alkali tanah dan molekul air. Ferrolite dapat digunakan sebagai
penghilang polutan dan mampu mengikat bakteri E.coli. Ferrolite adalah
media penyaring yang digunakan untuk menurunkan atau menghilangkan kandungan
zat besi (Fe) dan mangan (Mn) yang terlalu tinggi dalam air. Kandungan kadar
besi (Fe) yang tinggi dalam air menyebabkan air dapat berwarna kuning bahkan
merah dan berbau menyengat (bau besi) Ferrolite ini dapat dipergunakan untuk
media penyaringan air PAM/ sumur bor (Putra & Purnomo, 2012).
c. PMK (Podzolik Merah Kuning)
Tanah PMK secara alami
produktivitasnya rendah, kondisinya kurang mendukung pertumbuhan optimal
tanaman. Ciri tanah ini ialah pH rendah, kelarutan Al, Mn, Fe relatif tinggi,
kandungan Ca, Mg, Mo relatif rendah, dan kandungan N, P serta atau S kurang
karena dekomposisi berlangsung sangat lambat. Namun dengan adanya pengelolaan
yang baik, tanah ini dapat menjadi lebih produktif (Murni, 2009).
Peningkatan
produktivitas tanah tersebut, memerlukan tindakan pengelolaan kearah
peningkatan ketersediaan hara di dalam tanah. Disamping itu juga perlu tindakan
untuk peningkatan pH tanah sehingga kelarutan Al, Mn, dan Fe berkurang dan
kandungan Ca, Mg, dan Mo meningkat. Tidak kalah penting pula adalah tindakan pengelolaan
ke arah terciptanya kondisi tanah yang sehat, yaitu tanah yang bukan hanya
ketersediaan hara yang cukup, tetapi juga keberadaan komponen biotik dari jenis
mikroorganisme yang berperan dalam penyediaan hara. Keistimewaan bahan organik
dapat memperbaiki sifat kimia tanah, akibat dari aktivitas mikroorganisme
(Santoso, 2006).
Prosedur
Penelitian
a. Pertama, menyediakan alat dan bahan
yang akan digunakan pada penelitian.
b. Kedua, menyediakan media digunakan
pada penelitian, antara lain:
a) Mengambil air lindi sebanyak 600
liter dari TPA Muara Fajar menggunakan 3 drum.
b) Mengumpulkan tanah jenis PMK.
c) Mengumpulkan tanaman melati air dan
diaklimatisasi selama 3 hari dengan air suling.
d) Aktivasi zeolit dan Ferrolit selama
1 jam.
c. Ketiga, melakukan penanaman dengan
memasukkan media tanam ke dalam ember dengan takaran yang sudah di tentukan
yaitu perlakuan P0 sebanyak 5 ember dengan masing-masing di isi air
lindi sebanyak 10 liter. P1 sebanyak 5 ember dan masing-masing ember
di isi tanah jenis PMK sebanyak 8 cm, menanam tanaman melati air sebanyak 4
rumpun (6 hingga 9 lembar daun) , dan memasukkan air lindi sebanyak 10 liter. P2
sebanyak 5 ember dengan masing- masing ember di isi tanah jenis PMK sebanyak 4
cm, zeolit 4 cm, tanaman melati air sebanyak 4 rumpun (6 hingga 9 lembar daun),
air lindi 10 liter. P3 masing-masing 5 ember dan masing-masing ember
berisi 4 cm tanah jenis PMK, ferrolite 4 cm, tanaman melati air sebanyak 4
rumpun (6 hingga 9 lembar daun), dan air lindi sebanyak 10 liter.
d. Keempat, pengambilan sample air
lindi serta melakukan pengukuran parameter fisika (suhu dan bau) dan kimia (pH)
air lindi di laboratorium, setiap 4 perlakuan dan 5 kali pengulangan per 10
hari selama 30 hari penelitian.
e. Kelima, pemanenan daun melati air (Echinodorus palaefolius) pada perlakuan
1,2, dan 3 dan pengukuran sample
dilakukan di laboratorium LL DIKTI Wilayah X Padang, Sumatera Barat menggunakan
alat AAS (Atomic Absorbtion Spektrophotometri)
f. Keenam, melakukan pengolahan data
hasil pengamatan.
g. Membuat kesimpulan
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada
penelitian ini adalah observasi/pengamatan. Menurut Sugiyono (2008), observasi dilakukan dengan terjun langsung dalam kehidupan masyarakat,
tanpa menggunakan perantara. Pada
penelitian ini dilakukan dengan mengamati air lindi (leachate) dan pertumbuhan tanaman melati air (Echinodorus palaefolius).
Teknik
Analisis Data
Teknik analisis data penelitian ini
adalah data yang diperoleh dari hasil penelitian terlebih dahulu dilakukan uji
normalitas dan homogenitas. Jika data berdistribusi normal atau mempunyai
varian yang homogen dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA). Tetapi jika data
tidak berdistribusi normal atau tidak mempunyai varian yang homogen maka
dianalisis dengan menggunakan Kruskal Walls. Kemudian dilakukan
uji lanjut dengan DMRT (Duncan’s Multiple Range Test).
Berdasarkan Sistem Informasi
Pengelolaan Sampah Nasional pada tahun 2017/2018 didapatkan komposisi umum
sampah kota Pekanbaru pada Tabel 3 sebagai berikut :
Tabel 3 :
Komposisi Umum Sampah Kota Pekanbaru
No
|
Kondisi Sampah
|
Nilai (%)
|
1
|
Logam
|
1
|
2
|
Kaca
|
2
|
3
|
Karet Kulit
|
4
|
4
|
Kain tekstil
|
4
|
5
|
Kayu
|
4
|
6
|
Kertas
|
14
|
7
|
Plastik
|
24
|
8
|
Sisa makanan
|
33
|
Adapun sumber
sampah kota Pekanbaru menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional
2017/2018 dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini :
Tabel 4 : Sumber
Sampah Kota Pekanbaru
No
|
Kondisi Sampah
|
Nilai (%)
|
1
|
Sampah kawasan
|
2
|
2
|
Fasilitas publik
|
4
|
3
|
Kantor
|
7
|
4
|
Pasar tradisional
|
8
|
5
|
Pusat perniagaan
|
8
|
6
|
Rumah tangga
|
47
|
Berdasarkan
hasil rekapitulasi jumlah timbunan sampah kota Pekanbaru yang masuk ke TPA
Muara Fajar Pekanbaru menurut Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota
Pekanbaru pada tahun 2017 dapat dilihat pada Tabel 5 sebagai berikut :
Tabel
5: Rekapitulasi Jumlah Timbunan Sampah yang Masuk ke TPA Muara Fajar Pekanbaru
per Tahun 2015 s.d. 2017
Tahun/ton
|
||
2015
|
2016
|
2017
|
148.819.753,00
|
121.707,84
|
132,232,49
|
Efektivitas Daun Melati Air (Echinodorus palaefolius) Dalam
Mengakumulasi Logam Berat
Nilai efektivitas melati air dan media
penyaring terhadap air lindi dapat dilihat pada Tabel 37 :
Tabel 37 : Rekapitulasi Nilai Efektivitas Daun
Melati Air Dalam Mengakumulasi Logam Berat Fe dan Cr
Parameter
|
Unit
|
Perlakuan
|
Efektivitas
(EP) (%)
|
|||
Hari ke 0
|
Hari ke 10
|
Hari ke 20
|
Hari ke 30
|
|||
Logam Berat Fe Daun Melati Air
|
mg/L
|
P1
|
0
|
5,941
|
12,352
|
32,843
|
P2
|
0
|
5,721
|
11,984
|
16,755
|
||
P3
|
0
|
5,702
|
8,114
|
14,659
|
||
Logam Berat Cr Daun Melati Air
|
mg/L
|
P1
|
0
|
3,153
|
7,157
|
10,242
|
P2
|
0
|
-0,342
|
5,944
|
7,956
|
||
P3
|
0
|
-1,015
|
2,503
|
6,187
|
||
Berdasarkan Tabel 37
dapat dilihat bahwa efektivitas parameter konsentrasi logam berat Fe dan Cr
yang terakumulasi pada daun melati air, nilai efektivitas Fe yang tertinggi yaitu
pada perlakuan 1 hari ke 30 (32,843%) dan nilai efektivitas Cr yang tertinggi
yaitu juga pada perlakuan 1 hari ke 30 (10,242%).
Berdasarkan hasil
penelitian bahwa dari nilai efektivitas daun
melati air (Echinodorus palaefolius)
dalam mengakumulasi logam berat Fe dan Cr yang memiliki nilai tertinggi
yaitu pada perlakuan P1 yang menggunakan media PMK (Podzolik Merah Kuning)
dengan tumbuhan melati air pada hari ke 30. Hal ini disebabkan karena pada
media PMK tidak efektif menyerap logam berat yang ada pada air lindi. Sehingga
logam berat Fe dan Cr banyak terserap di daun melati air.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 32 Tahun 2017, didapatkan parameter fisika dan kimia dalam
standar baku mutu air kesehatan lingkungan media air untuk lingkungan higiene sanitasi seperti pada tabel di
bawah ini :
Tabel 1: Parameter Fisika dan Kimia dalam Standar
Baku Mutu Air Kesehatan Lingkungan Media Air Untuk Lingkungan Higiene Sanitasi
No
|
Parameter
|
Satuan
|
Baku
Mutu
|
1
|
Bau
|
-
|
Tidak
Berbau
|
3
|
Besi
(Fe)
|
mg/L
|
1,000
|
4
|
Kromium
(Cr)
|
mg/L
|
0,050
|
5
|
pH
|
-
|
6,5-8,5
|
6
|
Suhu
|
0C
|
±
3
|
Kesimpulan
Berdasarkan hasil
penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa perlakuan yang efektif
dalam mengakumulasi logam berat Fe dan Cr pada daun melati air (Echinodorus palaefolius) yaitu terdapat
pada perlakuan 1 hari ke 30 menggunakan media penyaring PMK dengan tumbuhan
melati air. Nilai efektivitas akumulasi logam berat Fe pada daun melati air
sebesar 32,843% dan nilai efektivitas akumulasi logam berat Cr pada daun melati
air sebesar 10,242%.
DAFTAR
PUSTAKA
Ali, M. (2011). Monograf Rembesan Air Lindi
(leachate) Dampak pada Tanaman Pangan dan Kesehatan. UPN Press : Surabaya.
Anam, M, M. (2011). Penurunan Kandungan Logam Pb dan Cr Leachate melalui
Fitoremediasi Bambu Air (Equisetum Hyemale) dan Zeolit. Universitas
Brawijaya, Malang.
Erni, M, Y., & Mukhlis. (2013). Pengaruh lindi (Leachate
) Sampah Terhadap Air Sumur Penduduk Sekitar Tempat Pembuanganakhir ( TPA)
Air Dingin. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol. 7. No. 2. Hal. 54-59.
Esmiralda., & Oktarina, D. (2012). Pengaruh COD,
Fe, Dan NH3 dalam Air Lindi TPA Air Dingin Kota Padang Terhadap Nilai LC50. Jurnal
Teknik Lingkungan UNAND. Vol. 9. No. 1. Hal. 44-49.
Hanafiah, K, A. (2011). Rancangan Percobaan Teori
& Aplikasi. Ed. 3. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Irhamni., Pandia, S., Purba, E., & Hasan, W. (2017). Kandungan Logam Berat pada Air Lindi Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
Sampah Kota Banda Aceh. Tersedia: http://www.jurnal.unsyiah.ac.id/SNP-Unsyiah/article/download/6858/5659/
[9 Desember 2018].
John, D. (2018). Pengertian
Bahan Ajar Menurut Para Cendekiawan. Tersedia: https://www.silabus.web.id/pengertian-bahan-ajar-menurut-para
cendekiawan/ [9 Desember 2018].
Juhaeti, T., Fauzia, S., & Nuril, H. (2005).
Inventarisasi Tumbuhan Potensial Untuk Fitoremediasi Lahan dan Air Terdegradasi
Penambangan Emas. Biodiversitas, Vol. 6. No. 1. Hal. 31-33.
Kirman. 2011. Fitoremediasi
Upaya Mengolah Air Limbah Dengan Media Tanaman.Tersedia:https://kirmantenggarong.files.wordpress.com/2011/05/proses-fitoremediasi.pdf/
[9 Desember 2018].
Lasalutu, N. (2013). Perbedaan Kualitas Air Lindi Sebelum dan Sesudah Pengolahan di Tempat
Pembuangan Akhir (Studi Kasus TPA Sampah Botubilotahu Kec. Marisa Kab.
Pohuwato). Universitas Negeri Gorontalo.
Liliya, D, S., & Suharto. (2011). Penurunan
Kandungan Logam Berat pada Air Lindi dengan Media Zeolit Menggunakan Batch dan Metode Kontinyu. Jurnal Agrointek. Vol.
5. No. 2. Hal. 126-132.
