Jumat, 05 Juli 2019

ABSTRAK


Trio Molina P, 2019 :    Akumulasi Logam Berat pada Daun Echinodorus palaefolius pada Variasi Media Penyaring Selama Remediasi Air Lindi

Persoalan sampah di Pekanbaru merupakan salah satu hal yang sangat diresahkan masyarakat sekitar. Karena, jumlah peningkatan sampah yang melebihi kapasitas dapat mencemari lingkungan dan akan menjadi substansi cairan yang dihasilkan dalam proses pembusukan sampah yang baunya sangat menyengat, yang disebut dengan air lindi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa kadar logam berat Fe dan Cr yang terakumulasi di daun melati air (Echinodorus palaefolius) selama remediasi air lindi (leachate). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 kali pengulangan setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar logam berat Fe dan Cr yang terakumulasi pada daun melati air (Echinodorus palaefolius) paling banyak terdapat pada perlakuan 1 (P1) hari ke 30 dengan menggunakan media penyaring Podzolik Merah Kuning (PMK) dengan tumbuhan melati air (Echinodorus palaefolius), nilai efektivitas akumulasi logam berat Fe pada daun melati air (Echinodorus palaefolius) sebesar 32,843% mg/L sedangkan nilai efektivitas akumulasi logam berat Cr pada daun melati air (Echinodorus palaefolius) sebesar 10,242% mg/L. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa media penyaring PMK dengan melati air (Echinodorus palaefolius) pada perlakuan 1 (P1) sangat berpengaruh terhadap akumulasi logam berat Fe dan Cr pada daun melati air (Echinodorus palaefolius) selama remediasi air lindi.

Kata kunci: media penyaring, logam berat, Echinodorus palaefolius, air lindi, fitoremediasi


  BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Muara Fajar Pekanbaru merupakan salah satu tempat pembuangan akhir sampah di kota Pekanbaru. Berdiri pada tahun 1987, dengan luas area 8,6 hektar yang berada di daerah Rumbai. TPA tersebut dikelola oleh pemerintah kota Pekanbaru. Pada awal pembukaan lahan, TPA Muara Fajar menerapkan metode controlled landfill dalam pengolahan sampah, hal ini ditandai dengan adanya saluran drainase untuk mengendalikan air hujan, saluran pengumpul lindi (leachate), kolam penampung, fasilitas pengendalian gas metan dan lain-lain (Sugiarto, 2013).
Sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tersebut masih mengalami proses penguraian secara alamiah dengan jangka waktu panjang. Beberapa jenis sampah dapat terurai secara cepat, sedangkan yang lainnya lebih lambat bahkan beberapa jenis sampah tidak berubah sampai puluhan tahun misalnya plastik. Hal ini memberikan gambaran bahwa setelah TPA selesai digunakan, masih ada proses yang berlangsung. Sehingga menghasilkan beberapa zat yang dapat mengganggu lingkungan (Sugiarto, 2013).
Persoalan sampah juga dapat mengancam kota Pekanbaru sebagai salah satu kota besar di Sumatera yang jumlah penduduknya terus meningkat. Sehingga kebutuhan penduduknya juga ikut meningkat. Berkaitan dengan itu, pemerintah kota Pekanbaru telah melakukan berbagai upaya penanggulangan sampah mulai dari kegiatan penyuluhan dan penyadaran masyarakat tentang kebersihan, penjemputan sampai dari rumah-rumah penduduk untuk diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah (Sari & Sari, 2014).
Saat ini tempat pembuangan akhir (TPA) Muara Fajar menerapkan sistem open dumping dalam pengolahan sampah dikarenakan jumlah peningkatan sampah yang melebihi kapasitas. Open dumping yaitu berupa area terbuka cukup luas yang digali atau bekas jurang. Area tersebut kemudian digunakan sebagai tempat pembuangan sampah dari segala penjuru kota (Sundari, 2015).
Agar sampah tersebut tidak mencemari lingkungan, keberadaan tempat pembuangan akhir (TPA) memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu sebagai pengolahan akhir setelah disortir oleh pemulung. Jumlah sampah di TPA yang sangat besar akan menyebabkan proses dekomposisi alamiah berlangsung secara besar-besaran pula. Proses dekomposisi tersebut akan mengubah sampah menjadi pupuk organik dan menimbulkan hasil samping yaitu air lindi (Anam, 2011).
Air lindi (leachate) adalah substansi cairan yang dihasilkan dalam proses pembusukan sampah dan baunya sangat menyengat. Air lindi mengandung zat berbahaya apalagi jika berasal dari sampah yang tercampur dengan sampah B3 (Bahan berbahaya dan beracun). Jika tidak diolah secara khusus, air lindi dapat mencemari sumur/air tanah, air sungai, hingga air laut dan menyebabkan kematian biota (makhluk hidup) laut (Sari, 2015).
Salah satu upaya penjernihan air lindi tersebut yaitu menggunakan fitoremediasi (phytoremediation) yang menggunakan tanaman air tertentu yang bekerja sama dengan mikroorganisme dalam media (tanah, koral dan air). Perpaduan ini dapat mengubah zat kontaminan (pencemar/polutan) menjadi kurang atau tidak berbahaya bagi lingkungan. Proses yang dilakukan tumbuhan untuk menguraikan zat kontaminan yang mempunyai rantai molekul kompleks menjadi bahan yang tidak berbahaya dengan susunan molekul yang lebih sederhana yang dapat berguna bagi pertumbuhan tumbuhan itu sendiri (Anam, 2011).
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh Sundari (2015), ternyata media penyaring dan melati air (Echinodorus palaefolius) dalam fitoremediasi air lindi (leachate) hasilnya sangat efektif.  Hasil yang didapat setelah penelitian selama 28 hari menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan media penyaring dengan tumbuhan melati air (Echinodorus palaefolius) terhadap kualitas air lindi (leachate). Penurunan kadar polutan yang efektif terdapat pada perlakuan P3 (Podzolik merah kuning, zeolit, tumbuhan melati air) dengan nilai efektivitas kekeruhan 95,18 %, Suhu 4 %, Total Suspended Solid (TSS) 97,47%, tidak bau, pH 20,86%, dan Dissolved Oxygen (DO) (-)6660%. Oleh karena itu, maka peneliti akan melanjutkan penelitian untuk menganalisa akumulasi logam berat Fe dan Cr pada daun tanaman melati air (Echinodorus palaefolius) dalam remediasi air lindi (leachate). Karena peneliti ingin melihat kemampuan daun melati air dalam mengakumulasi kadar logam berat Fe dan Cr terhadap air lindi TPA Muara Fajar Pekanbaru tersebut.
Berdasarkan penelitian  Sundari (2015), peneliti mengambil logam berat yang paling banyak melebihi batas kriteria mutu air dan berbahaya yaitu Kromiun (Cr) dan Besi (Fe). Logam berat tersebut akan dianalisa pada daun tanaman melati air (Echinodorus palaefolius) saja. Karena, logam berat Kromiun (Cr) dan Besi (Fe) dapat menyebabkan penurunan kualitas air serta membahayakan lingkungan dan organisme akuatik.
Peneliti memanfaatkan tanaman melati air (Echinodorus palaefolius) dikarenakan tanaman tersebut sangat mudah dijumpai di daerah Rumbai dan tanaman tersebut sangat mampu menurunkan Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) dalam meremediasi kadar logam berat. Chemical Oxygen Demand (COD) yaitu kebutuhan oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di dalam air, sedangkan Biological Oxygen Demand (BOD) ialah kebutuhan oksigen biologis untuk memecah bahan buangan di dalam air oleh mikroorganisme.  
Penjelasan tersebut senada dengan penelitian Lasalutu (2013), menyatakan hasil analisis nilai rata-rata kandungan Biological Oxygen Demand (BOD) sesudah pengolahan yaitu 26,00 mg/L dan nilai rata-rata kandungan Chemical Oxygen Demand (COD)  sesudah pengolahan yaitu 74.00 mg/L kinerja dari unit pengolahan Air Lindi TPA Botubilotahu masih efesien dalam pengolahannya sehingga dari kedua parameter yaitu Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD)  tidak melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.
Observasi selanjutnya, pembelajaran di kelas pada materi pencemaran lingkungan dalam matakuliah Ilmu Pengetahuan Lingkungan belum sepenuhnya memanfaatkan potensi lingkungan sekitar dan belum terdapat bahan ajar artikel berbasis penelitian untuk membantu mahasiswa belajar. Mahasiswa membutuhkan kegiatan nyata terjun ke lingkungan dan bahan ajar yang dimiliki masih kurang.
Selama ini mahasiswa masih memanfaatkan penjelasan dari dosen dan mengumpulkan informasi dari media internet. Sehingga mahasiswa sangat membutuhkan pembelajaran yang kontekstual ditunjang dengan bahan ajar menarik berupa artikel yang berisi materi tentang lingkungan, dan informasi dalam artikel tersebut berbasis penelitian langsung. Untuk menunjang pembelajaran dan kebutuhan yang didukung oleh pengamatan peneliti terhadap lingkungan, maka dikembangkan sebuah pembelajaran di kelas untuk materi pencemaran lingkungan yang berbasis penelitian fitoremediasi.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka telah dilakukan penelitian dengan judul “Akumulasi Logam Berat pada Daun Echinodorus palaefolius pada Variasi Media Penyaring Selama Remediasi Air Lindi.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Air Lindi (leachate)
Air lindi (leachate) merupakan air yang terbentuk dalam timbunan sampah yang melarutkan banyak sekali senyawa yang ada sehingga memiliki kandungan pencemar yang sangat tinggi, khususnya zat organik. Cairan tersebut kemudian mengisi rongga-rongga pada sampah, bila kapasitasnya telah melampaui kapasitas tekanan air dari sampah, maka cairan tersebut akan keluar dan mengekstraksi bahan organik dan anorganik hasil proses fĂ­sika, kimia dan biologis yang terjadi pada sampah. Jadi air lindi (leachate) sangat berpotensi menyebabkan pencemaran air, baik air permukaan, air tanah maupun air bawah tanah, sehingga perlu dikelola dengan baik (Pinem et al., 2014).
Air lindi (leachate) berasal dari limbah sampah organik yang biasanya diproduksi dari sampah rumah tangga. Sampah basah/organik inilah yang menghasilkan air lindi (leachate) dan bisa mencemari air sumur penduduk sekitar. Pencemaran air tanah (groundwater) oleh air lindi (leachate)  menjadi ancaman yang serius bagi masyarakat. Elevasi permukaan tanah diatas muka laut rata-rata menjadi faktor penyebab utama penyebaran air lindi (Rosid et al., 2011).
Air lindi (leachate) mengandung zat berbahaya dan baunya sangat menyengat apalagi jika berasal dari sampah yang tercampur dengan sampah B3 (Bahan berbahaya dan beracun). Jika tidak diolah secara khusus, air lindi (leachate) dapat mencemari sumur/air tanah, air sungai, hingga air laut dan menyebabkan kematian biota (makhluk hidup) laut (Yatim & Mukhlis, 2013).
Karakter air lindi (leachate) atau sangat bervariasi tergantung dari proses-proses yang terjadi di dalam landfill, yang meliputi proses fisik, kimia dan biologis. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi proses yang terjadi di landfill antara lain : jenis sampah, lokasi landfill, hidrogeologi dan sistem pengoperasian. Faktor tersebut sangat bervariasi pada suatu tempat pembuangan yang satu dengan yang lainnya, begitu pula aktivitas biologis serta proses yang terjadi pada timbunan sampah baik secara aerob maupun anaerob. Dengan adanya hal tersebut maka akan mempengaruhi pula produk yang dihasilkan akibat proses dekomposisi seperti kualitas dan kuantitas air lindi serta gas, sebagai contoh bila suatu Tempat Pembuangan Akhir (TPA) banyak menimbun sampah jenis organik maka karakter air lindi (leachate) yang dihasilkan akan mengandung zat organik tinggi yang disertai bau (Ali, 2011).
B.       Fitoremediasi
Fitoremediasi (phytoremediation) merupakan suatu sistem dimana tanaman tertentu yang bekerja sama dengan mikroorganisme dalam media (tanah, koral dan air). Perpaduan ini dapat mengubah zat kontaminan (pencemar/polutan) menjadi kurang atau tidak berbahaya bagi lingkungan. Proses yang dilakukan tumbuhan untuk menguraikan zat kontaminan yang mempunyai rantai molekul kompleks menjadi bahan yang tidak berbahaya dengan susunan molekul yang lebih sederhana yang dapat berguna bagi pertumbuhan tumbuhan itu sendiri (Anam et al., 2011).
Proses fitoremediasi berlangsung secara alami dengan enam tahap proses secara serial yang dilakukan tumbuhan terhadap zat kontaminan/ pencemar yang berada disekitarnya (Kirman, 2011) adalah :
a.    Phytoacumulation (phytoextraction)
Yaitu proses tumbuhan menarik zat kontaminan dari media sehingga berakumulasi disekitar akar tumbuhan. Proses ini disebut juga Hyperacumulation.
b.    Rhizofiltration (rhizo= akar)
Merupakan proses adsorpsi atau pengedapan zat kontaminan oleh akar untuk menempel pada akar. Percobaan untuk proses ini dilakukan dengan menanan bunga matahari pada kolam mengandung radio aktif untuk suatu tes di Chernobyl, Ukraina.
c.    Phytostabilization
Yaitu penempelan zat-zat kontaminan tertentu pada akar yang tidak mungkin terserap kedalam batang tumbuhan. Zat-zat tersebut menempel erat (stabil ) pada akar sehingga tidak akan terbawa oleh aliran air dalam media.
d.   Rhyzodegradetion disebut juga enhenced rhezosphere biodegradation, or plentedassisted bioremidiation degradation. Yaitu penguraian zat-zat kontaminan oleh aktivitas mikroba yang berada disekitar akar tumbuhan. Misalnya ragi, fungi dan bakteri.
e.    Phytodegradation (phytotransformation) Yaitu proses yang dilakukan tumbuhan untuk menguraikan zat kontaminan yang mempunyai rantai molekul yang kompleks menjadi bahan yang tidak berbahaya dengan dengan susunan molekul yang lebih sederhan yang dapat berguna bagi pertumbuhan tumbuhan itu sendiri. Proses ini dapat berlangsung pada daun , batang, akar atau diluar sekitar akar dengan bantuan enzim yang dikeluarkan oleh tumbuhan itu sendiri. Beberapa tumbuhan mengeluarkan enzim berupa bahan kimia yang mempercepat proses proses degradasi.
f.     Phytovolatization
Merupakan proses menarik dan transpirasi zat kontaminan oleh tumbuhan dalam bentuk yang telah larutan terurai sebagai bahan yang tidak berbahaya lagi untuk selanjutnya diuapkan ke atmosfir. Beberapa tumbuhan dapat menguapkan air 200 sampai dengan 1000 liter perhari untuk setiap batang.
C.      Logam Berat
Logam berat ialah unsur logam dengan berat molekul tinggi. Dalam kadar rendah logam berat pada umumnya sudah beracun bagi tumbuhan dan hewan, termasuk manusia. Termasuk logam berat yang sering mencemari habitat ialah Cr, Cd, Hg, As, dan Pb (Notohadiprawiro, 2006).
Berdasarkan sudut pandang toksikologi, logam berat dapat dibedakan menjadi logam berat esensial dan logam berat non esensial.  Logam berat esensial adalah dalam jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh organisme hidup, namun dalam jumlah yang berlebihan dapat menimbulkan efek racun, sebagai contoh antara lain Zn, Cu, Fe, Co, Mn dan Se. Sedangkan logam berat non esensial merupakan logam yang beracun (toxic metal) yang keberadaannya dalam tubuh masih belum diketahui manfaatnya, sebagai contoh antara lain Hg, Cd, Pb, Sn, Cr (VI) dan As. Logam berat ini dapat menimbulkan efek yang merugikan kesehatan manusia, sehingga sering disebut sebagai logam beracun (Sosrosumihardjo, 2010).
 
 
 
 
 
 


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017, didapatkan parameter fisika dan kimia dalam standar baku mutu air kesehatan lingkungan media air untuk lingkungan higiene sanitasi seperti pada tabel di bawah ini :
Tabel 1: Parameter Fisika dan Kimia dalam Standar Baku Mutu Air Kesehatan Lingkungan Media Air Untuk Lingkungan Higiene Sanitasi
No
Parameter
Satuan
Baku Mutu
1
Bau
-
Tidak Berbau
3
Besi (Fe)
mg/L
1,000
4
Kromium (Cr)
mg/L
0,050
5
pH
-
6,5-8,5
6
Suhu
0C
± 3



Keberadaan Kromium (Cr) diperairan dapat menyebabkan penurunan kualitas air serta membahayakan lingkungan dan organisme akuatik. Dampak yang ditimbulkan bagi organisme akuatik yaitu terganggunya metabolisme tubuh akibat terhalangnya kerja enzim dalam proses fisiologis. Kromium (Cr)  dapat menumpuk dalam tubuh dan bersifat kronis yang akhirnya mengakibatkan kematian organisme akuatik (Irhamni et al., 2017).
Terdapatnya logam besi (Fe), cadmium (Cd), dan kromium (Cr) dalam air lindi (leachate) TPA sangat berbahaya karena logam ini adalah logam yang bersifat sangat toksit dan akan merembes ke dalam tanah yang akan mencemari air tanah. Jika ketiga logam ini merembes ke dalam tanah maka akan mencemari sumur-sumur penduduk setempat (Irhamni et al., 2017).
D.      Tanaman Melati Air (Echinodorus palaefolius)
Melati air merupakan tanaman akuatik atau tanaman air yang berasal dari Brazil, Peru, Meksiko, dan Uruguay. Bunga melati air berwarna putih bersih, kelopaknya terlihat agak tipis, dan tengah bunga terdapat benang sari berwarna kuning. Melati air hampir sama dengan melati biasa. Melati air kerap berbunga tak kenal musim dan tidak perlu penanganan khusus karena mudah untuk hidup (Mursito, 2011).



Klasifikasi Tanaman Melati air (Echinodorus palaefolius) :
Kingdom
: Plantae (Tumbuhan)
Sub kingdom
: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super divisi
: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas
: Liliopsida (berkeping satu/ monokotil
Sub kelas
: Alismatidae
Ordo
: Alismatales
Famili
: Alisnataceae
Genus
: Echinodorus
Spesies
: Echinodorus palaefolius


Gambar 1: Tanaman Melati Air (Echinodorus palaefolius)
(Dokumentasi Pribadi)

Melati ini jenis tumbuhan perdu spesies Echinodorus palaefolius, berdaun lebar, bunganya bewarna putih 1 kuncup yang mampu menghasilkan beberapa bunga dan hanya bertahan 6-7 jam. Memiliki akar serabut dan batang yang berongga sehingga mampu menyuplai oksigen ke akar dalam jumlah yang besar. Akar tanaman berfungsi untuk menyerap unsur hara yang berasal dari air limbah untuk mengelola kandungan pencemaran pada air agar memiliki nilai estetika bagi lingkungan. Melati air (Echinodorus palaefolius) ini mudah tumbuh asalkan tanahnya tidak kering kerontang (Sari, 2013).
Daun melati air (Echinodorus palaefolius) agak kaku, permukaan dan bagian bawah daun ditumbuhi bulu-bulu yang kasar. Melati air (Echinodorus palaefolius) tidak tahan dengan sinar matahari sepanjang hari. Jika daunnya berwarna kekuning-kuningan, sebaiknya dipindah ke tempat yang sedikit terlindung (Mursito, 2011).
E.       Media Penyaring
a.    Zeolit
Zeolit berasal dari kata “zeinlithos” yang artinya batuan berbuih. Zeolit merupakan suatu kelompok mineral yang dihasilkan dari proses hidrotermal pada batuan beku basa, dimana mempunyai kemampuan mengadsorpsi bahan-bahan organik sehingga dapat menurunkan kadar pencemaran dari limbah cairan lindi (leachate) tersebut (Liliya & Suharto, 2011).
Selain itu zeolit juga merupakan endapan dari aktivitas vulkanik yang banyak mengandung unsur silika. Pada saat ini penggunaan mineral zeolit semakin meningkat, dari pegunungan dalam industri kecil hingga dalam industri berskala besar. Di negara maju seperti Amerika Serikat, zeolit sudah benar-benar dimanfaatkan dalam industri (Liliya & Suharto, 2011).
b.    Ferrolite
Ferrolite adalah suatu jenis mineral yang tersusun di dalamnya yang berisi ion – ion logam, biasanya logam alkali tanah dan molekul air. Ferrolite dapat digunakan sebagai penghilang polutan dan mampu mengikat bakteri E.coli. Ferrolite adalah media penyaring yang digunakan untuk menurunkan atau menghilangkan kandungan zat besi (Fe) dan mangan (Mn) yang terlalu tinggi dalam air. Kandungan kadar besi (Fe) yang tinggi dalam air menyebabkan air dapat berwarna kuning bahkan merah dan berbau menyengat (bau besi) Ferrolite ini dapat dipergunakan untuk media penyaringan air PAM/ sumur bor (Putra & Purnomo, 2012).
c.    PMK (Podzolik Merah Kuning)
Tanah PMK secara alami produktivitasnya rendah, kondisinya kurang mendukung pertumbuhan optimal tanaman. Ciri tanah ini ialah pH rendah, kelarutan Al, Mn, Fe relatif tinggi, kandungan Ca, Mg, Mo relatif rendah, dan kandungan N, P serta atau S kurang karena dekomposisi berlangsung sangat lambat. Namun dengan adanya pengelolaan yang baik, tanah ini dapat menjadi lebih produktif (Murni, 2009).
Peningkatan produktivitas tanah tersebut, memerlukan tindakan pengelolaan kearah peningkatan ketersediaan hara di dalam tanah. Disamping itu juga perlu tindakan untuk peningkatan pH tanah sehingga kelarutan Al, Mn, dan Fe berkurang dan kandungan Ca, Mg, dan Mo meningkat. Tidak kalah penting pula adalah tindakan pengelolaan ke arah terciptanya kondisi tanah yang sehat, yaitu tanah yang bukan hanya ketersediaan hara yang cukup, tetapi juga keberadaan komponen biotik dari jenis mikroorganisme yang berperan dalam penyediaan hara. Keistimewaan bahan organik dapat memperbaiki sifat kimia tanah, akibat dari aktivitas mikroorganisme (Santoso, 2006).
Prosedur Penelitian
a.    Pertama, menyediakan alat dan bahan yang akan digunakan pada penelitian.
b.    Kedua, menyediakan media digunakan pada penelitian, antara lain:
a)    Mengambil air lindi sebanyak 600 liter dari TPA Muara Fajar menggunakan 3 drum.
b)   Mengumpulkan tanah jenis PMK.
c)    Mengumpulkan tanaman melati air dan diaklimatisasi selama 3 hari dengan air suling.
d)   Aktivasi zeolit dan Ferrolit selama 1 jam.
c.    Ketiga, melakukan penanaman dengan memasukkan media tanam ke dalam ember dengan takaran yang sudah di tentukan yaitu perlakuan P0 sebanyak 5 ember dengan masing-masing di isi air lindi sebanyak 10 liter. P1 sebanyak 5 ember dan masing-masing ember di isi tanah jenis PMK sebanyak 8 cm, menanam tanaman melati air sebanyak 4 rumpun (6 hingga 9 lembar daun) , dan memasukkan air lindi sebanyak 10 liter. P2 sebanyak 5 ember dengan masing- masing ember di isi tanah jenis PMK sebanyak 4 cm, zeolit 4 cm, tanaman melati air sebanyak 4 rumpun (6 hingga 9 lembar daun), air lindi 10 liter. P3 masing-masing 5 ember dan masing-masing ember berisi 4 cm tanah jenis PMK, ferrolite 4 cm, tanaman melati air sebanyak 4 rumpun (6 hingga 9 lembar daun), dan air lindi sebanyak 10 liter.
d.   Keempat, pengambilan sample air lindi serta melakukan pengukuran parameter fisika (suhu dan bau) dan kimia (pH) air lindi di laboratorium, setiap 4 perlakuan dan 5 kali pengulangan per 10 hari selama 30 hari penelitian.
e.    Kelima, pemanenan daun melati air (Echinodorus palaefolius) pada perlakuan 1,2, dan 3 dan pengukuran sample dilakukan di laboratorium LL DIKTI Wilayah X Padang, Sumatera Barat menggunakan alat AAS (Atomic Absorbtion Spektrophotometri)
f.     Keenam, melakukan pengolahan data hasil pengamatan.
g.    Membuat kesimpulan

Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi/pengamatan. Menurut Sugiyono (2008), observasi dilakukan dengan terjun langsung dalam kehidupan masyarakat, tanpa menggunakan perantara. Pada penelitian ini dilakukan dengan mengamati air lindi (leachate) dan pertumbuhan tanaman melati air (Echinodorus palaefolius).
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data penelitian ini adalah data yang diperoleh dari hasil penelitian terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas. Jika data berdistribusi normal atau mempunyai varian yang homogen dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA). Tetapi jika data tidak berdistribusi normal atau tidak mempunyai varian yang homogen maka dianalisis dengan menggunakan Kruskal Walls. Kemudian dilakukan uji lanjut dengan DMRT (Duncan’s Multiple Range Test).



           Berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional pada tahun 2017/2018 didapatkan komposisi umum sampah kota Pekanbaru pada Tabel 3 sebagai berikut :
Tabel 3 : Komposisi Umum Sampah Kota Pekanbaru
No
Kondisi Sampah
Nilai (%)
1
Logam
1
2
Kaca
2
3
Karet Kulit
4
4
Kain tekstil
4
5
Kayu
4
6
Kertas
14
7
Plastik
24
8
Sisa makanan
33

Adapun sumber sampah kota Pekanbaru menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional 2017/2018 dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini :
Tabel 4 : Sumber Sampah Kota Pekanbaru
No
Kondisi Sampah
Nilai (%)
1
Sampah kawasan
2
2
Fasilitas publik
4
3
Kantor
7
4
Pasar tradisional
8
5
Pusat perniagaan
8
6
Rumah tangga
47

Berdasarkan hasil rekapitulasi jumlah timbunan sampah kota Pekanbaru yang masuk ke TPA Muara Fajar Pekanbaru menurut Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Pekanbaru pada tahun 2017 dapat dilihat pada Tabel 5 sebagai berikut :
Tabel 5: Rekapitulasi Jumlah Timbunan Sampah yang Masuk ke TPA Muara Fajar Pekanbaru per Tahun 2015 s.d. 2017
Tahun/ton
2015
2016
2017
148.819.753,00
121.707,84
132,232,49

Efektivitas Daun Melati Air (Echinodorus palaefolius) Dalam Mengakumulasi Logam Berat
Nilai efektivitas melati air dan media penyaring terhadap air lindi dapat dilihat pada Tabel 37 :
Tabel 37 : Rekapitulasi Nilai Efektivitas Daun Melati Air Dalam Mengakumulasi Logam Berat Fe dan Cr
Parameter
Unit
Perlakuan
Efektivitas (EP) (%)
Hari ke 0
Hari ke 10
Hari ke 20
Hari ke 30
Logam Berat Fe Daun Melati Air
mg/L
P1
0
5,941
12,352
32,843
P2
0
5,721
11,984
16,755
P3
0
5,702
8,114
14,659
Logam Berat Cr Daun Melati Air
mg/L
P1
0
3,153
7,157
10,242
P2
0
-0,342
5,944
7,956
P3
0
-1,015
2,503
6,187



Berdasarkan Tabel 37 dapat dilihat bahwa efektivitas parameter konsentrasi logam berat Fe dan Cr yang terakumulasi pada daun melati air, nilai efektivitas Fe yang tertinggi yaitu pada perlakuan 1 hari ke 30 (32,843%) dan nilai efektivitas Cr yang tertinggi yaitu juga pada perlakuan 1 hari ke 30 (10,242%).
Berdasarkan hasil penelitian bahwa dari nilai efektivitas daun melati air (Echinodorus palaefolius) dalam mengakumulasi logam berat Fe dan Cr yang memiliki nilai tertinggi yaitu pada perlakuan P1 yang menggunakan media PMK (Podzolik Merah Kuning) dengan tumbuhan melati air pada hari ke 30. Hal ini disebabkan karena pada media PMK tidak efektif menyerap logam berat yang ada pada air lindi. Sehingga logam berat Fe dan Cr banyak terserap di daun melati air.


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017, didapatkan parameter fisika dan kimia dalam standar baku mutu air kesehatan lingkungan media air untuk lingkungan higiene sanitasi seperti pada tabel di bawah ini :
Tabel 1: Parameter Fisika dan Kimia dalam Standar Baku Mutu Air Kesehatan Lingkungan Media Air Untuk Lingkungan Higiene Sanitasi
No
Parameter
Satuan
Baku Mutu
1
Bau
-
Tidak Berbau
3
Besi (Fe)
mg/L
1,000
4
Kromium (Cr)
mg/L
0,050
5
pH
-
6,5-8,5
6
Suhu
0C
± 3



Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa perlakuan yang efektif dalam mengakumulasi logam berat Fe dan Cr pada daun melati air (Echinodorus palaefolius) yaitu terdapat pada perlakuan 1 hari ke 30 menggunakan media penyaring PMK dengan tumbuhan melati air. Nilai efektivitas akumulasi logam berat Fe pada daun melati air sebesar 32,843% dan nilai efektivitas akumulasi logam berat Cr pada daun melati air sebesar 10,242%.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. (2011). Monograf Rembesan Air Lindi (leachate) Dampak pada Tanaman Pangan dan Kesehatan. UPN Press : Surabaya.
Anam, M, M. (2011). Penurunan Kandungan Logam Pb dan Cr Leachate melalui Fitoremediasi Bambu Air (Equisetum Hyemale) dan Zeolit. Universitas Brawijaya, Malang.
Erni, M, Y., & Mukhlis. (2013). Pengaruh lindi (Leachate ) Sampah Terhadap Air Sumur Penduduk Sekitar Tempat Pembuanganakhir ( TPA) Air Dingin. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol. 7. No. 2. Hal. 54-59.
Esmiralda., & Oktarina, D. (2012). Pengaruh COD, Fe, Dan NH3 dalam Air Lindi TPA Air Dingin Kota Padang Terhadap Nilai LC50. Jurnal Teknik Lingkungan UNAND. Vol. 9. No. 1. Hal. 44-49.
Hanafiah, K, A. (2011). Rancangan Percobaan Teori & Aplikasi. Ed. 3. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Irhamni., Pandia, S., Purba, E.,  & Hasan, W. (2017). Kandungan Logam Berat pada Air Lindi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Kota Banda Aceh. Tersedia: http://www.jurnal.unsyiah.ac.id/SNP-Unsyiah/article/download/6858/5659/ [9 Desember 2018].
John, D. (2018). Pengertian Bahan Ajar Menurut Para Cendekiawan. Tersedia: https://www.silabus.web.id/pengertian-bahan-ajar-menurut-para cendekiawan/ [9 Desember 2018].
Juhaeti, T., Fauzia, S., & Nuril, H. (2005). Inventarisasi Tumbuhan Potensial Untuk Fitoremediasi Lahan dan Air Terdegradasi Penambangan Emas. Biodiversitas, Vol. 6. No. 1. Hal. 31-33.
Kirman. 2011. Fitoremediasi Upaya Mengolah Air Limbah Dengan Media Tanaman.Tersedia:https://kirmantenggarong.files.wordpress.com/2011/05/proses-fitoremediasi.pdf/ [9 Desember 2018].
Lasalutu, N. (2013). Perbedaan Kualitas Air Lindi Sebelum dan Sesudah Pengolahan di Tempat Pembuangan Akhir (Studi Kasus TPA Sampah Botubilotahu Kec. Marisa Kab. Pohuwato). Universitas Negeri Gorontalo.
Liliya, D, S., & Suharto. (2011). Penurunan Kandungan Logam Berat pada Air Lindi dengan Media Zeolit Menggunakan Batch dan  Metode Kontinyu. Jurnal Agrointek. Vol. 5. No. 2. Hal. 126-132.